POLRI Kehilangan Muka, Bukan Noordin M. Top Yang Mati Pada Melodrama Teroris Temanggung

Pasukan Densus 88 Antiteror melakukan penyergapan di rumah yang diduga berisi buronan Noordin M Top./AFP/TARKO SUDIARNO

Dokumentasi tulisan Mega Simarmata yang telah dimuat di KATAKAMI.COM tanggal 12 Agustus 2009

Jakarta 12/8/2009 (KATAKAMI) Akhirnya dengan penuh “keberanian”, MABES POLRI mengumumkan secara resmi bahwa mayat yang mereka tembak di Temanggung dengan HEBOH pada hari Sabtu (8/8/2009) lalu bukan NOORDIN M. TOP.

Rasanya jadi terkenang lagi saat berita tentang “kematian” Noordin M. Top itu mendadak sontak mendunia tersebar kemana-mana. Bayangkan, jadi BREAKING NEWS di media-media raksasa dunia.

Termasuk disiarkan juga di CNN dan jaringan televisi Al Jazeera !

Sampai akhirnya, sempat timbul rasa “kecil hati” dari KATAKAMI karena cuma kami satu-satunya media yang tidak mempercayai dan yakin seyakin-yakinkan bahwa mayat itu bukanlah mayat Noordin M. Top. Kami sempat merasa “kesepian” dalam melanjutkan konsistensi pemberitaan terkait penanganan terorisme.

Tapi akhirnya, semua kontroversi itu dijawab sendiri oleh MABES POLRI. Tidak benar ada pengepungan, penyerbuan, penangkapan atau penembakan ala robot TRANS FORMERS kepada NOORDIN M. TOP.

Tidak benar bahwa Noordin M. Top membangun dan menjalankan jaringan terorismenya di PULAU JAWA !

Hari ini, bisa jadi merupakan hari yang paling membahagiakan untuk Abdul Hakin Ritonga karena pada hari inilah ia dilantik menjadi WAKIL JAKSA AGUNG menggantikan Muchtar Arifin yang sudah memasuki masa pensiun sejak beberapa bulan lalu.

Tapi bagi POLRI, hari ini adalah hari yang sangat memalukan dan bisa disebut hari yang benar-benar paling MEMALUKAN ! Khususnya bagi Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror POLRI dan jajaran BARESKRIM POLRI.

Bantahan juga sudah disampaikan MABES POLRI perihal penayangan EKSKLUSIF PEMBERITAAN saat Noordin M Top abal-abalan itu dikepung, diserbu, diberondong, diledakkan dan ditewaskan Densus 88 Anti Teror yaitu penayangan siaran langsung itu tidak ada kaitan dengan MABES POLRI.

Ya, tidak mungkinlah tidak ada kaitannya.

Kalau misalnya ada sebuah pemberitaan — apalagi bersifat LIVE atau siaran LANGSUNG yang berpotensi mengganggu situasi keamanan dan membocorkan rahasia negara selama lebih dari 5 menit saja, sudah menjadi kewajiban bagi POLRI untuk segera melakukan koordinasi dan penindakan hukum. Ini kok dibiarkan BOSS, sampai belasan bahkan puluhan jam !

Patut dapat diduga, KAPOLRI Bambang Hendarso Danuri memang memberikan IZIN PEMBERITAAN EKSKLUSIF kepada sebuah televisi swasta nasional dan itu harus dipertanggung-jawabkan.

Patut dapat diduga, KAPOLRI Bambang Hendarso Danuri sudah secara sengaja membangun opini publik lewat dimunculkannya siaran EKSKLUSIF itu bahwa gembong teroris Noordin M. Top sudah mati selamanya dan akhirnya POLRI tidak terbebani lagi untuk mengudak-udak PAK CIK NOORDIN sampai akhir zaman.

Tidak ada kata lain, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus mencopot Kapolri Bambang Hendarso Danuri. Ini akan menjadi duri dan beban sejarah yang sangat memalukan pemerintahan SBY.

Kemenangan yang gemilang pada Pilpres 2009 akan ternodai dan terus terbebani oleh sejarah buruk tentang kesalahan fatal DENSUS 88 — khususnya POLRI — dalam melodrama terorisme yang mengambil lokasi shooting di TEMANGGUNG.

Tidak ada kata lain, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus mengubah secara secara total struktur kepemimpinan di MABES POLRI. Dari mulai Kapolri, Wakapolri, Irwasum Polri, Kabareskrim POLRI dan Kepala Densus 88 Anti Teror, semua perlu diberi sanksi yang sangat amat tegas.

Dimana peran PENGAWASAN yang dipegang oleh Irwasum Komjen Jusuf Manggabarani ?

Masak, ada siaran langsung dalam penanganan terorisme yang notabene adalah OPERASI “TOP SECRET” sangat amat rahasia dari POLRI, bisa-bisanya dibiarkan sampai belasan bahkan puluhan jam ?

Bagaimana kalau ketika itu OSAMA BIN LADEN terbangkitkan emosinya karena melihat gaya aparat keamanan Indonesia yang OVER ACTING, lalu memutuskan untuk mengirimkan satu ledakan dashyat ke Indonesia ?

Siaran langsung itu sudah mempertaruhkan keselamatan bangsa, negara dan rakyat INDONESIA !

SBY sangat keterlaluan kalau membiarkan dan mendiamkan kesalahan fatal MABES POLRI ini. Tidak ada kata lain, copot semua yang terkait dan ikut bertanggung-jawab atas adanya kesalahan fatal penembakan NOORDIN M. TOP dan siaran langsung yang patut dapat diduga memang DIBERIKAN HAK EKSKLUSIF oleh MABES POLRI bagi sebuah televisi swasta untuk menyiarkannya secara langsung.

Copot dan jangan ada lagi dalih pembenaran dari jajaran POLRI !

KH Solahudin Wahid, Pemimpin Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur

Kepada KATAKAMI Selasa (12/8/2009) lewat wawancara khusus, KYAI HAJI SOLAHUDIN WAHID mengatakan bahwa kesalahan fatal POLRI dalam gunjang ganjing soal kesalahan tembak ini adalah karena tidak adanya koordinasi antar lembaga intelijen.

“Begini, saya pribadi tetap ingin memberikan apresiasi terlebih dahulu terhadap POLRI. Kita jangan terlalu memojokkanlah. Tapi, yang POLRI harus tahu disini adalah POLRI tidak punya koordinasi dengan jajaran intelijen lainnya, yaitu dari TNI misalnya. Semua angkatan di TNI punya intelijen, mengapa tidak dilibatkan dalam penanganan terorisme kalau misalnya di Temanggung ada Noordin M. Top” kata Solahudin Wahid.

Ketika diberitahukan oleh KATAKAMI bahwa patut dapat didga, sejak Tim Anti Teror POLRI ditangani oleh Komisaris Jenderal GORIES MERE pada penanganan bom malam Natal tahun 1999 — Tim Anti Teror POLRI memang tidak pernah mau dan tidak pernah bisa menjalin koordinasi (jangankan berkoordinasi dengan TNI, untuk berkoordinasi dengan Divisi Intelijen & Keamanan di MABES POLRI sendiripun tidak pernah mau karena terpaku pada EGO SEKTORAL), Solahudin Wahid mengaku sangat kecewa.

“Oh begitu informasi di kalangan wartawan ya bahwa selama ini memang tidak pernah bisa berkoordinasi ? Mau jadi apa Densus 88 kalau berkoordinasi di bidang intelijen saja tidak mau dan tidak mampu ? Lalu, mau dibawa kemana penanganan terorisme di Indonesia ini kalau cuma jago-jagoan saja sendiri menangani terorisme. Iya kalau benar penanganannya ? Coba bayangkan saja, saya saja waktu lihat siaran yang heboh itu sampai berpikir, wah jangan-jangan yang ada didalam rumah itu lebih dari 8 orang teroris. Eh, gak tahunya cuma seperti itu saja. Sampaikanlah kepada POLRI, jadikan ini sebagai pelajaran !” lanjut KH Solahudin Wahid.

Adhie Massardi

Sementara itu lewat wawancara dengan KATAKAMI Selasa (12/8/2009) siang, pengamat politik ADHIE MASSARDI mengatakan bahwa POLRI harus mengakui telah GAGAL TOTAL dalam mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan penanganan terorisme selama ini.

“POLRI harus mengakui bahwa selama ini cara mereka mengkomunikasikan soal masalah penanganan terorisme itu gagal total. Ke depan harus bisa lebih baik agar jangan BLUNDER secara berkepanjangan. Kalau POLRI berkomunikasi ke masyarakat saja GAGAL TOTAL seperti selama ini untuk menginformasikan kepada masyarakat soal penanganan terorisme maka lama-lama POLRI akan KRISIS KEPERCAYAAN. Masyarakat sudah tidak mau mempercayai POLRI lagi” kata Adhie Massardi.

Adhie Massardi menilai bidang komunikasi yang sangat amat buruk sejak Divisi Humas POLRI ditangani Irjen Nanan Soekarna memang patut disayangkan.

“Beritahukan saja kepada POLRI bahwa mereka butuh ahli komunikasi, pakar dalam komunikasi yang memberikan masukan dan strategi-strategi berkomunikasi yang justru menguntungkan POLRI. Bukan malah memperburuk situasi dan menyudutkan POLRI. Pakar komunikasi itulah yang harus diajak bicara terlebih dahulu sebelum POLRI menyampaikan sesuatu kepada masyarakat. Jadi POLRI butuh seseorang yang sangat ahli dalam mamahami seluk beluk komunikasi. Jangan diulangi lagi ketertutupan komunikasi yang sangat parah dalam penanganan terorisme selama bertahun-tahun ini. Dan giliran dikomunikasikan malah gagal total” ungkap Adhie Massardi.

Sedangkan Direktur Lembaga Kajian Syariat Islam FAUZAN AL ANSHARI mengatakan kepada KATAKAMI lewat pembicaraan telepon bahwa POLRI terlalu mengada-ada dalam menyampaikan berbagai keterangan seputar masalah terorisme.

“Ini kan semua membingungkan masyarakat. Minggu lalu dihebohkan Noordin M. Top mati ditembak di Temanggung. Orang lantas mencibir, masak mudah sekali menembak mati seseorang yang katanya ahli bom paling hebat dan komandan Al Qaeda di Asia sekelas Noordin M. Top. Sekarang dibantah bahwa itu bukan Noordin M. Top tapi Ibrohim. Lho, waktu POLRI mengumumkan soal hasil penanganan bom Mega Kuningan bahwa salah satu korban tewas adalah Ibrohim tapi akhirnya diberitahukan bahwa hasil tes DNA tidak cocok dengan seseorang yang disebut Ibrohim. Sekarang Ibrohimnya dihebohkan mayat di Temanggung. Yang benar yang mana sih ? Kita harus ikut dibingungkan oleh kebingungan POLRI” kata Fauzan Al Anshari.

Melodrama “Temanggung”  — seperti istilah yang digunakan Kyai Haji Solahudin Wahid menjadi ANTIKLIMAK penanganan terorisme di Indonesia. Dan itu adalah kesalahan fatal yang sulit termaafkan oleh masyarakat Indonesia terhadap POLRI.

Masihkah SBY mau membiarkan carut marut penanganan terorisme ini tetap STATUS QUO tanpa kemajuan yang berarti ?

Masihkah SBY mau mendiamkan saja ketidak-mampuan Kapolri BHD dan Kabareskrim Susno Duadji terus tetap menjadi beban moral bagi MABES POLRI secara institusi ?

POLRI harus punya rasa malu dan memang tahu malu karena patut dapat diduga DENSUS 88 terbuka secara telanjang bulat semua kekeliruan dan keterbatasan tugas yang mengecewakan masyarakat.

Inilah yang namanya, “MANUSIA MERENCANAKAN, TETAPI TUHAN YANG MENENTUKAN !”

(MS)

%d bloggers like this: